
Ada saatnya ketika kita merasakan mengalami stagnasi dalam hidup ini merupakan sebuah kebosanan yang menghanyutkan, kita merasa bodoh , tolol, dan lain sebagainya , lalu bagaimanakah kita harus menghadapinya?...
Kehidupan sepertinya cuma sekedar waktu yang memoles wajah dan hati kita dengan beribu pertanyaan, disaat kegelisahan membuat kita tediam ditempat sementara semua orang lalu-lalag, jam terus berputar, matahari berganti rembulan,cuaca gelap panas hujan kemarau, kita tetap terdiam dengan kebisuan dan lamunan kita, lalu perlahan berbisik dalam hati " akulah makhluk fakir di alam fana ini, tiada ada yang tersisa terkecuali fikiran yang terbenam dalam samudra hati dan entah kapan muncul kembali, sementara orang sibuk berlari sedangkan aku terdiam di gubuk jiwa ini sambil berusaha mengingat nama hari ".
Lalu tediamlah kita...tiada yang kita mengerti...tiada yang kita ketahui,..cuma bisa mendengar bisikan-bisikan kecil suara hati yang rintih, sambil sambil mengenang perjalanan nafas kita dari ujung sana sampai ujung sini, dari belakang sana sampai saat ini, dari "Atas" sana sampai "tubuh" ini, lantas apa yang sudah kita beri pada kehidupan ini sebelum nafas yang kita miliki hanya tinggal sejengkal dari kerongkongan ini? tentu saat jiwa yang kosong dan sepi akan memberikan angka Nol (0) pada diri kita sendiri tanpa malu-malu, tanpa sikap arogansi.
Titik Nol: "Maka kembalilah kita ke ujung sana, kembalilah kita ke belakang sana, kembalilah kita ke Atas sana" akan kita temui jiwa yang putih.

No comments:
Post a Comment